Esmaeil Baghaei, Senin (18/11/2024) mengatakan, "Statemen Menlu Inggris yang mengingkari genosida di Gaza, sejalan dengan kebijakan pemerintah negaranya dalam melanjutkan pengiriman senjata mematikan dan memberi dukungan politik atas Rezim rasis pelaku genosida, yang telah mengubah pemerintah Inggris menjadi sekutu dan mitra kejahatan Israel."
Ia menambahkan, "Sikap ini adalah sebuah bentuk persetujuan atas genosida. Masalah yang sedemikian mengerikan dan sangat tidak manusiawi, serta mengingatkan tentang pemikiran yang berakar dari penjajahan, kali ini menjelma dalam bentuk diskriminasi ras terorganisir terhadap rakyat Palestina, dan Islamfobia."
Esmaeil Baghaei, Minggu malam di akun X menulis, "Kesimpulan Komite khusus penyelidikan Palestina bahwa perang yang dipaksakan di Gaza, pada kenyataannya adalah sebuah genosida, merupakan pengulangan dari apa yang sebelumnya berulangkali disampaikan atau diperingatkan oleh otoritas-otoritas yang berkompetensi di PBB seperti Pelapor khusus Hak Asasi Manusia Palestina, Mahkamah Internasional, ICJ, dan Mahkamah Pidana Internasional, ICC. Hal baru yang memalukan adalah pengingkaran atas genosida terang-terangan oleh Inggris."
Ia melanjutkan, "Pelapor khusus HAM Palestina, dalam laporan berjudul 'Autopsi atas Sebuah Genosida' pada Maret 2024 menjelaskan, 'Genosida atas warga Palestina, oleh Israel, merupakan fase intensif dari sebuah proses panjang penghapusan Palestina, di jantung sebuah proyek penjajahan'. Ia pada laporan 'Genosida Serupa Pembersihan Etnis Kolonialisme' Oktober 2024, memusatkan perhatian pada poin ini bahwa dalam kondisi dunia menyaksikan genosida penjajahan pertama secara langsung, hanya penegakan keadilan lah yang mampu menyembuhkan infeksi akibat luka-luka yang tercipta karena kepentingan-kepentingan politik."
Menlu Inggris David Lammy, belum lama ini mengatakan Israel, tidak sedang melakukan genosida di Gaza, pasalnya jumlah orang yang terbunuh dalam serangan Israel, tidak sampai jutaan.
Di Parlemen Inggris, Lammy menjelaskan, "Istilah semacam genosida, biasanya digunakan ketika jutaan orang kehilangan nyawanya dalam krisis-krisis seperti di Rwanda, dan Perang Dunia II, dan metode yang saat ini digunakan mengalami penurunan intensitas."
342/